Setetes Embun di Musim Dingin
A. Muntaha Afandie
Di sebuah imaroh1 seorang anak muda terpekur di atas sajadah. Diam. Tak bergerak. Hanya ujung jari telunjuk tangan kanannya menari indah di tengah keheningan malam. Tariannya khusuk dan indah bagaikan tarian sufi Jalaluddin Rumi.
Dari pelopak matanya keluar kristal. Putih. Jemarinya terus menari.”Cinta memang membutakan. Tapi kamu jangan jadi budak cinta,” nasihat Mak Kom, seorang nenek bijak di kampung halamannya, terus terdengar di telinganya. Nasihat itu disampaikan kepadanya beberapa saat sebelum ia take off ke Libya.
”Anakku… sebentar lagi kamu akan megarungi samudera sangat luas. Luas. Tak bertepi. Ingat… Semakin jauh kamu mengarungi samudera, badai semakin ganas menerjang. Berhati-hatilah, putraku. Tahukah badai itu, wahai anakku? Pergaulan, malas-malasan, dan–yang paling bahaya—wanita. ’Anisa habail syayathin,’ begitu menurut sabda suci. Apalagi bagi anak muda seusiamu. Godaan terakhir yang jadi ancaman utama. Sekali lagi berhati-hatilah dalam mengarungi hidup ini. Sebentar lagi kamu akan menjadi orang asing di negeri asing… hati-hati… hati-hati… jangan sampai tergoda wanita.” Hatinya gundah. Sebuah kegundahan atas kekhilafanya. Dalam hatinya bergelanyut pertanyaan mengandung penyelesan. Sebuah penyesalan yang tidak bererti, tanpa ia perbaiki diri. ”Kenapa saya tidak mengindahkan nasihat nenek bijak itu.
”Dan masih banyak lagi kenapa, kenapa yang lain. Hatinya seperti ditusuk ratusan jarum. Tubuhnya bagai ditindih buldoser. Hacur. Remuk. Tak berbentuk. Ia merasa dirinya anak paling durhaka di dunia. Lebih duhaka dari Malin Kundang. Pemuda itu tengadahkan kedua tangannya keatas. Tangannya begetar. ”Tuhan… dalam sujud kusadari diriku hilang bentuk….””Kembalikanlah wujud remuk ini, Tuhan.”2
Pemuda itu adalah Abdul Shobir. Teman-teman biasa memangilnya Doleng. Ia mahasiswa International Islamic Call College Libya. Di kalangan mahasiswa, pada dua tahun pertama kuliah di Libya, ia terkenal sebagai aktifis kampus dan ”penjaga” perpustakaan. Kalau tidak di kampus, tempat Doleng adalah masjid atau perpustakaan. Baik kegiatan yang dimotori oleh mu’tamar thulaby,3 KANU,4 maupun KKMI5 sudah dipastikan Doleng tak pernah abstain. Kecuali ada keperluan yang lebih penting. Apalagi jika kegiatan itu berupa diskusi. Pada tahun pertama kuliah di IICC Doleng satu-satunya mahasiswa Asia Tenggara yang meraih predikat mumtaz. Waktu tak pernah meninggalkan kewajibannya, berputar.
Hari berganti. Minggu pun berlalu. Memasuki tahun ketiga Doleng bukannya semakin arif dan dewasa. kelakuannya berbalik 180 derajat. Berubah total. Prestasinya anjlok dari paling atas ke dasar. Doleng bukannya mengendalikan pergaulan, malah ”dikendalikan” pergaulan.
Hampir saja tidak lulus ujian fatroh.6 Doleng lebih suka duduk di dalam rukubah amah7 keliling kota Tripoli, dari pada duduk di bangku kuliah dan perpustakaan. Pergaulannya pun semakin luas. Tidak terbatas kalangan mahasiswa saja. Hampir semua warga Negara Indonesia di Tripoli akrab dengan nama Doleng. Dari sedekar iseng menghilangkan penat di hari libur, hari Jumat dan Sabtu, Doleng jadi tak kenal waktu main dari satu rumah kerumah yang lain. Pergaulannya benar-benar membuatnya lupa kewajibannya sebagai seorang pelajar. Suatu hari, Doleng diminta tolong Bapak Yasir, di antara seorang Warga Indonesia yang paling akrab dengannya, untuk menjemput putrinya di Bandara Internasinal Tripoli.
Putri Pak Yasir mahasiswi Sorbone Universite Paris Prancis. Ia datang ke Libya mengisi waktu libur musim panas. ”Kamu nyesel lho kalau besok nggak bisa menjemput putri bapak. Dia cantik. Cocok buat kamu,” goda pak Yasir. Doleng diam saja. Ia malu-malu kucing. Awalnya malu, lama-lama kelamaan bikin malu. Pagi itu terasa sejuk. Hari yang dinantikan telah tiba. Doleng memilih pakaian terbaik dan parfum paling mahal. Ia tidak lupa membawa foto yang diberikan pak Yasir. ”Biar kamu tidak kesulitan mencarinya,” ujar pak Yasir. Di belakang foto itu tertulis namanya,”Neha Machuvic, nama yang indah seindah matanya. Sesempurna orangnya,” Doleng membatin.
Ia menengok jam di dinding. ”Subhanallah, pesawat 45 menit lagi landing. Aku harus cepat-cepat meluncur. Aku tidak boleh telat.” Doleng lari tegesa-gesa dari imaroh menuju bawwabah.8 Ia menyetop taxi. Doleng meminta sopir melajukan taxinya dengan kecepatan tinggi.
”Zid zus dinar,”9 sopir meminta uang tambahan.
”Bahe,”10 Doleng menyetujui. Pikirnya yang penting bisa datang ke bandara tepat waktu. Doleng sengaja tidak mampir dulu ke rumah Pak Yasir karena waktu sudah mepet. Di dalam taxi Doleng tak bosan memandangi wajah mahasiswi semester IV Islamic Studies itu.
”Benar-benar sempurna.”Ia terus memandangi foto di tangan kanannya. Satu persatu Doleng perhatikan penumpang yang keluar dari pintu arrival tapi tak seorang pun pemilik wajah di selembar kertas yang ia pegang, keluar dari situ. Tiba-tiba! Seketika jantung Doleng berdetak lebih kencang. Mulutnya melongo.
”Adzim11… Sungguh luar biasa. Ia lebih sempurana dari fotonya. Kecantikannya tidak kalah dengan Miss Indonesia 2005,” tanpa disadari mulut Doleng mengeluarkan pujian yang berlebihan untuk putri pak Yasir.
”Common sa va? Je m’ appelle12 Mohammad Shobir,” Doleng mengulurkan tangannya, tanda ia mengenalkan.
”Sa va bein. Je m’ appelle13 Neha Machuvic. Panggil saja Neha atau Machuvic,” yang diajak bicara pun ngerti maksud pemuda di sampingnya.
”Mas Biasa dipangil Doleng, kan? Toi tu sais parter Francais?14”
”Juste unpuet-unpuet.15 Kok kamu tahu nama selebritis aku. Siapa yang kasih tahu?” Doleng memang kadang terlewat pe-de di depan gadis. Ia kaget nama selebritisnya sudah diketahui gadis yang tiba-tiba menimbulkan getaran-getaran aneh di hatinya.
”Ayah yang kasih tahu. Bahkan beliau kirim foto mas. Katanya agar mudah mencari penjemput,” kata gadis itu lugu. Sejak pertemuannya dengan Machuvic, kuliah Doleng menjadi semakin semrawut. Berangkat cuma untuk mengisi absen. Sebab mahasiswa yang lima kali absen dalam sebulan tidak mendapatkan mukafaah16.
emakin akrab dengan Machuvic, batang hidung Doleng bertambah jarang terlihat berkeliaran di kawasan IICC. Doleng lebih banyak menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga bersama pujaan hatinya. Kadang mereka pergi ke-Suq Jumat 17atau Suq Turki18. Atau pergi kepantai.
”Mas kamu kan sudah lama di sini ceritakan dong bagaimana kehidupn masyarkat Libya.”
”Aku malu.”
”Kenapa mesti malu, mas. Ceritakanlah. Apanya yang bikin mas malu? Malu kepada siapa””Malu pada nabi. Malu pada para penyiar agama di negara kita.”Jawabanya bikin Machuvic semakin bingung dan penasaran, ”Malu pada nabi? Malu pada penyiar agama di negara kita, kenapa?”
Setelah dipaksa dengan nada manja dan memelas, hati Doleng pun luluh juga. Kemudian menjelaskan maksudnya. ”Sebagai bangsa Indonesia dengan populasi penduduk terbesar di dunia, saya merasa malu. Tentu kamu bertanya kenapa? Sebelumnya saya bertanya, saat berbelanja di Suq Jumat, apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana reaksi orang Libya ketika mendengar suara adzan berkumandang?”
”Mereka langsung meninggalkan pasar menuju ke masjid. Pedagang langsung meninggalkan dagangannya. Pembeli tidak lagi mencari-cari barang yang dibutuhkan. Semua tumpah ruah menuju masjid terdekat. Biasa saja. Mereka muslim jadi mereka melaksanakan kewajibanya,” jawab Machuvic.
”Itulah yang bikin saya malu. Dari kuantitas Indonesia memang bergengsi, populasi muslim terbesar di dunia. Tetapi dari kwalitas, muslim Indonesia nol besar. Kwalitas keimanan dan moral, terutama. Moral bangsa kita bobrok. Karena itu, tingkat pornografi Indonesia terparah kedua di dunia.”
”Karena itu, jangan heran pengunjung pasar Indonesia alih-alih memenuhi panggilan Tuhan malah menjawab panggilan syetan. Di pasar malam, kita biasa menyaksikan betapa anak-anak muda berduaan di tempat sepi nan gelap, padahal adzan isya berkumandang dari perbagai penjuru. Di mall-mall adakah yang bergegas ke surau kala adzan berkumandang? SEDIKIT!” Katanya dengan nada di tekan.
”Ada lagi yang bikin saya malu sebagai warga Negara Indonesia.
”Apa itu?”
”Seorang mentri di Libya masih menyisahkan waktunya untuk mengajar. Hebatnya, ia datang ke kampus tanpa sopir pribadi apalagi pengawal. Ini berbeda dengan kehidupan para pemimpin di Indonesia. Baru jadi kepala sekolah saja tuntutannya sudah macam-macam.”Doleng menghentikan ucapannya sebentar.
a menarik nafas sejenak… ”Untuk bisa menemui wakil bupati, seremonialnya njimetnya tidak ketulungan. Itu baru wakilnya. Bagaimana bapaknya.”Seharian Doleng ngobrol di pingir pantai kota Tripoli. Tak terasa sang surya telah menuju peraduanya. Doleng tidak hanya lupa makan dan minum, kuliah pun sudah terhapus dari ingatannya. Ujian sudah di depan mata, tak ia pedulikan. Tinggal menghitung hari. Prestasinya yang terus merosot sejak setahun terakhr tidak pernah ia perbaiki.
”santai saja, Men.” Kata bahasa anak zaman sekarang. Doleng benar-benar lupa daratan. Susahnya proses bisa kuliah di Libya, bersaing dengan ratusan calon mahasiswa baru memperebutkan tiga puluh kuota calon mahasiswa, terhapus dari memori ingatannya. Kalau dia ingat, mungkin sadar. Yang ada di kepalanya; Machuvic… machuvic, dan Machuvic. Ada satu hal lagi yang bikin Doleng lupa segala-galanya, mengotak-atik laptop Toshiba keluaran terbaru. Laptop yang biasanya dipakai sebagai alat bantu belajar, untuk membuka Maktabah Syamillah, Ma’ajim Lughoh, atau menulis artikel sekedar di blow up di web pribadinya atau dikirim ke mass media tanah air, beralih fungsi sebagai obat rindu. Doleng sudah tidak pernah membuka e-book yang di-download dari warnet depan bawwabah, tapi 3jam dan Yahoo! Messenger yang pelototi semalam suntuk. Siangnya ngantuk. Kuliahnya semrawut kayak kentut.
***
Udara dingin kota Tripoli benar-benar menusuk. Seakan, bukan tulang yang ada di dalam tubuh, tapi es balok. Malam itu benar-benar sunyi. Tidak ada suara selain suara tak-tik-tuk-tek-tok, sisa hujan beberapa saat lalu. Begitu selanjutnya. Begitu seterusnya. Kota Tripoli seperti kota mati.Jemari tangan kanan Doleng tidak lagi menarikan tarian sufi Rumi.
Tangan itu tetap bergeter. Ia merogoh saku baju, mengambil sepucuk surat. Entah yang keberapa kalinya Doleng membaca surat itu. Setiap kali membaca, saat itu juga bulir-bulir kristal terjatuh dari pelopak matanya. Mulutnya diam. Hatinya tetap sedang membaca.
Matanya terpejam dalam. Ia teringat sebuah puisi, Dingin menggigittak boleh bekukan niatPanas menyengatjangan lumpuhkan semangatMeraih ilmu manfaat Dunia-akherat Ilmu bukan warisanBukan pula barang temuanIlmu adalah perjuanganIlmu adalah tantanganPerjuangan mendapatkannyaTantangan memgamalkannyaBisakahMampukah!?Kamulah jawabannyaKamulah jawabannya……19
Kalimat terakhir puisi terus berputar-putar dikepalanya. Kamulah jawabannya… kamulah jawabanya. Doleng menyadari kesalahannnya selama ini. Ia ingin sukses tapi malas belajar. Lebih suka kelayaban keliling kota Tripoli, dari pada belajar dan diskusi. Ilmu tidak mungkin ditemukan di Suq Jumat atau Suq Turki, ”ilmu bukan barang temuan.” Ilmu bisa ”ditemukan” di gedung perpustakaan. Doleng teringat firman Allah Swt, ”Allah tidak merubah (garis) nasib seseorang sampai ia merubah nasibnya sendiri”20 atau dalam bahasa Harold Sherman, Tuhan membantu orang yang membantu dirinya. Tuhan tak akan bekerja untuk Anda jika Anda sendiri tak mau bekerja. Bukankah kesuksesannya pada tahun pertama karena kerja kerasnya dan ”kehancurannya” saat ini karena kemalasannya.Doleng telah menyadari kekhilafannya selama ini. Ia merasa subjek yang disindir Tuhan dalam Alquran (22:46) adalah dirinya, ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”
Doleng insyaf, ia telah berjalan jauh. Sangat jauh. Dari Indonesia ke Libya. Tetapi, mata hatinya buta. Doleng tidak pernah mengindahkan nasihat dari teman-temannya.
Malam itu, pikiran Doleng kacau. Ia berusaha menenangkannya. Menjernihkannya. Pikiran yang gundah hanya memperkeruh masalah. Pikiran jernih dan tenang, dapat mengambil inisiatif-inisiatif berharga dan mempersiapkan mental dalam menghadapi berbagai perubahan yang tidak bisa dihindari, demikian menurut buku karya Ary Ginanjar Agustian yang ia baca berkali-kali. Perubahan pasti terjadi. Malam itu Doleng menghabiskan waktunya untuk tafakkur, bukan memelototi monitor laptopnya sebagaimana kegiatannya setiap malam.
Mata Doleng masih terpejam. Lekat. Pikirannya benar-benar sudah tenang. Ia terus menjaga agar api harapan dalam hatinya jangan sampai padam. Doleng teringat tesis Dr. Ken Oslon bahwa harapan adalah hidup. Apabila manusia tidak memiliki harapan untuk masa depan, maka tidak ada kekuatan untuk saat ini. Sekali lilin harapan padam, maka jalan jadi berbahaya. Doleng ciptakan harapan hidupnya dimasa depan sebening embun di musim dingin. Putih dan sejuk. Adzan subuh berkumandang tepat pukul 06.30, Doleng bangkit dari sajadah setelah selesai shalat subuh dan membaca wirid yang sudah lama ia tinggalkan. Ia menghampiri lemari dan mengambil Laptopnya. Ia buka mail.Yahoo.com. Doleng sending e-mail ke ID yang biasa on line setiap malam dengannya,
”Aku mencintaimu, sayangku, tapi aku tidak mau menodai cinta-Nya. Ku pilih dirimu karena untuk melaksanakan perintah Dzat yang ku cinta. Menjalankan sunnah rasul yang kujadikan uswah hasan dalam menapaki hidup. Selama ini kita sudah berjalan terlalu jauh, kasihku. Maaf adinda, hati, jiwa dan ragaku tidak bisa ku persembahkan kepadamu sebab hanya kupersembahkan kepada Illah yang ku cinta. Sekali lagi maafkan, aku tidak mau mengotori cinta satu-satunya Dzat yang kucinta. Ku berikan kebebasan padamu untuk memilih apakah kamu mau melanggengkan hubungan kita sampai ke pelaminan atau sampai berakhir disini, namun kamu harus tahu bahwa aku tetap merindukanmu,” Doleng mengklik send di sebelah kiri monitor. Ia menarik nafas panjang.Sejak saat itu, tidak ada lagi Doleng ”si penjaga” pasar. Doleng telah menjadi doleng yang dulu, ”juru kunci” perpustakaan dan masjid. Ia kembali menjalani kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Sampai saat-saat menegangkan tiba, pengumuman hasil ujian. Saat itu Doleng tidak bisa melihat langsung hasil perjuannnya selama ini, ia mendapatkan undangan kehormatan menghadiri jamuan duta besar Indonesia yang baru untuk Libya. Tiba-tiba suara Nency terdengar merdu dari jawal-19nya.”Selamat Bang, antum lulus dengar predikat summa cumlaude. Satu-satunya mahasiswa menyandang predikat bergengsi ini.” Terdengar suara dari seberang mengabarkan kelulusannya. Doleng lansung berucap tahmid. Para tamu undangan yang tadi mendengar lamat-lamat berita bahagia itu mengucapkan selamat. Doleng terus mengucapkan tahmid. Libya, awal musim dingin 2007 Notes:
- Asrama.
- diolah dari puisi penulis Taubat di tulis di Lirboyo 23 Desember 2006.
- Badan Eksekutif Mahasiswa.
- Keluarga Nahdlatul Ulama.
- Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia.
- Ujian tengah tahun.
- Angkutan umum.
- Pintu gerbang.
- Tambah dua dinar, dong.
- Oke.
- Luar biasa.
- Apa kabar? Nama saya M. Shobir.
- Kabar baik. Nama saya Neha Machuvic.
- Anda bisa berbahasa Pransci
- Hanya sedikit.
- uang saku
- Pasar tradisional pada hari Jumat
- Pasar kaki lima terbesar di Tripoli
- Dikutip dari buku harian penulis, Tripoli 17 Nopember 2007.
- A-Ra’d ayat 11.
- Hand Phone