LUKA
Jantungnya berdetak kencang. Sekujur tubuhnya tarasa panas. Entah panas apa dan dari mana?
Seandainya bukan ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, mungkin, pada saat itu, jantungnya terbakar api amarah. Hangus. Rasa kecewa tiada tara.
Meski sudah berusaha tabah, belajar menerima keadaan, dan berupaya mengendalikan emosi dan mengontrol jalan pikirannya. Tetap saja, emosinya tidak bisa dijinakkan dan pikirannya semakin liar.
Tangannya bergetar. Getarannya lain, tidak karuan. Tidak berirama. Tidak seperti getaran-getaran saat membaca bait-bait puisi atau berorasi— jadi juru kampanye saat pemilihan ketua persatuan santri Jawa Barat.
Pada saat itu, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Ia termenung sendiri. Kepalanya terasa berat. Ingin meringankannya. Sedikit saja. Lalu, keluar dari kamar kontrakanya yang pengap. Di luar senyum dewi malam terlihat menyeramkan, pesona bintang-bintang dilangit tampak pudar, dan angin membisikan kata-kata sulit dimenengerti.
Kegelapan malam menambah kesunyian panjang. Membuat dirinya semakin terasingkan dari dunianya sendiri. Ia merasa dirinya ada tapi bentuknya tidak karuan. Ia merasa hidupnya sudah hilang bentuk. Tidak tersisa selain remuk.
Pada malam itu, seorang gadis sangat didamba telah pergi meningalkannya; meninggalkan secarik kertas yang mengukir kesedihan. Menggores luka jauh kedalam. Bukan luka goresan pedang. Lukanya menusuk hati.
Pepatah kuno bilang, jika pedang menggores tubuh masih ada harapan untuk sembuh. Apabila kata melukai hati, kemana obat hendak kucari(?)…!!!
Kepergian gadis idamanya telah menghancurkan segala asa. Asa yang dibangun kokoh di atas janji setia.
Malam itu, entah untuk yang keberapa kalinya, ia meratapi nasib sebagai anak miskin. Pemuda papa. Tidak punya harta. Dan entah sudah berapa kali pula ia ditinggalkan karena tak berharta.
“Jika saja aku dilahirkan dari kantung harta dan kesenangan duniawi, tentu dia tidak meninggalkanku dalam keterasingan. Tetapi beginilah diriku. Aku anak lumpur pengap. Diriku terkurung dalam lubang derita dan putus asa.
Ah… tidak. Jangan. Kalimat terakhir tidak boleh jadi temanku. Biarkan diriku berteman akrab dengan luka dan derita, tapi tidak dengan putus asa. Tuhan tidak suka orang yang putus asa,” hatinya berdialog di bawah sinar rembulan. Purnama tak memancarkan cahaya di matanya. Gelap. ***
”Abduh, benarkah kamu hendak pergi merantau?”
“Benar.”
“Kemana?”
“Entahlah.”
”Kok bisa? Kamu pergi tanpa tujuan yang jelas. Ingat, sebelum melangkah buat dulu peta, agar tidak tersesat di jalan, Abduh tamanku.”
”Kenapa?” ”Itu penting, agar langkahmu tersruktur dengan baik, mengikuti rencana-rencana yang sudah kamu buat. Tanpa planning dan tujuan, langkahmu tidak terarah. Alih-alih sukses malah sebaliknya. Percuma kamu merantau. Sia-sia.”
”Tidak perduli gagal atau sukses. Yang penting mencoba. Saya sudah bosan hidup begini terus. Bukankah mencoba gerbang kesuksesan… Thomas A. Edison tidak akan menemukan bola lampu tanpa serangkai percobaan, termasuk 1000 kali kegagalan. Jadi, kenapa saya takut gagal di rantau. Anggaplah itu salah proses saya menuju kesuksesan. Semua mahluk hidup pasti berproses, itu peringatan Alferd. Jika tidak mencoba mengadu nasib, ya selamanya seperti ini… ini terusa . []Tuhan memerintahkan ummat-Nya agar merubah nasib masing-masing. Mengkonsep, mematakan atau apalah terjemahannya. Yang jelas nasib tidak akan berubah tanpa usaha. Walaupn tiap malam menengadahkan kedua tangan dan meletakkan jitak di bawah telapak kaki-Nya, sia sia saja. Tidak berarti, jika mau berusaha keras untuk mewujudkannya. Doa bagiku adalah usaha. Kita meminta pada Yang jauh di Atas sana— walaupun Ia berjanji ud uni astajib lakum— tetap saja miskin tanpa kerja keras di siang harinya. Dan….”[]”Dan apa? Jika kamu punya masalah katakanlah mungkin saya bisa membantumu. Kenapa berhenti? Itu jika kamu masih menganggapku sebagai temanmu. Jika tidak ya terserah.”[]Keduanya diam sejenak menyelami pikiran masing-masing. Hening. Abduh memecah keheningan malam senja itu. Ia membuka pembicaraan.[]”Aku sudah berjanji pada Lili akan segera melamarnya. Tapi aku tidak punya apa-apa,” ia berhenti. Mengatur nafas. Dadanya sesak. ”Sedangkan menikah perlu biaya tidak sedikit. Kamu tahu sendiri keadaanku, kan? Untuk makan sehari-hari saja, harus ’menjual keringat.’ Lalu, untuk biaya menikah, apa yang harus aku jual? Kalau aku terus tinggal di kampung, sampai mati pun tidak akan bisa memenuhi janjiku. Satu lagi syarat yang harus kupenuhi, saat menyuntingnya, namaku harus sudah dihiasi ’nama tambahan.’ Semua orang di dusun kita sudah tahu, Pak Agus hanya akan menikahkan putrinya dengan seorang sarjana,” Lanjutnya. Abduh kembali diam panjang. ”Tetapi, kalau kamu pergi, siapa yang ‘menyetir’ pemuda-pemuda desa? Hanya kamu yang bisa. Padamu saja, mereka tunduk.” ”Kepergianku bukan seperti penyulung yang habis menguras harta mangsanya. Pergi tanpa jelas rimbanya. Masih di bawah kolong langit tapi tidak ada yang tahu tempat pastinya. Tidak, kawan. Aku pergi untuk kembali.” ”Tapi kapan?” ”Entahlah(?) Jangan ajukan pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Yang pasti, aku tidak akan kembali sebelum mendapatkan segepok uang dan menyelesaikan pendidikan. Jadi, selain biaya pernikahan, aku pulang sudah memenuhi syarat yang diajukan pak Agus.”
”Memang untuk apa pak Agus mengajukan persyaratan sarjana segala bagi lelaki yang hendak melamar putrinya?” ”Katanya agar bisa melanjutkan perjuangan mengurus madrasah yang dia dirikan. Lilikan anak tunggal jadi bapaknya tidak ingin mengawinkannya dengan sembarang orang.”
”Oh… selamat berjuang kawan. Wujudkan asamu yang tersisah.”
Esoknya saat mentari pagi tersenyum dari singgasananya, ia berjalan menyelusuri jalan desa, pergi meninggalkan gadis iman demi tujuan. Didorong harapan. Meski dipundaknya memangul setumpuk derita, jalannya tetap tegak. Sama sekali tidak memperlihakan dia anak derita. Sebab, hatinya sudah dipenuhi harapan, asa, dan cinta. Cintalah sumber segala kehidupan, harapan sebagai penerangnya.
Mulai saat itu, Abduh bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Pagi ia kerja sorenya kuliah. Dalam sehari semalam, ia istirahat maksimal enam jam saja. Selebihynya menenteng map atau diktat dan buku lusut yang ia beli di pasar lowak.
Sesekali Abduh mengirimkan surat pada belahan jiwanya. Ia berjanji setalah rampung kuliah, akan menemui orang tua gadis bermata bulat itu. Melamar, menikah, dan memboyongnya ke kota. Hidup bersama dan mandiri.
Lili senang sekaligus bertambah kagum, Abduh bukan hanya sosok pekerja keras tapi juga memiliki idealisme tinggi. Komunikasi mereka berjalan lancar baik lewat SMS, email, telepon, maupun chatting. Jumpa kasih tercinta,Mas AbduhDi Rantau
Seuntai kata terukir dari relung jiwa, seulas senyum menambah pesona. Kutulis risalah kala kita tidak bisa bertatap muka. Ku tanya kepastian, pada kanda nan jauh di seberang sana. Ku nantikan jawaban, tetap saja tiada.
Meski capek menanti jawaban, aku tetap setia. Aku tetap mencintaimu. Kamu telah merajai hatiku, Abduh.
Tetapi kasihku,
Tidak ada lautan yang tak bertepi. Tidak ada penantian tanpa akhir. Aku tidak bisa terus menjalani hubungan tanpa ada kepastian yang jelas. Aku tidak mau Kak Abduh terus menggantungkan hubungan. Resmikan sekarang atau berakhir sampai disini. Titik. Sekali lagi aku capek, Kak.
Apalagi ayah bermaksud menjodohkanku dengan anak salah seorang temannya. Bulan depan dia pulang dari tanah suci. Dia telah menyelesaikan pendidikan di tanah kelahiran nabi. Kak Abduh pasti tahu siapa dia, dia kakak kelas Kakak di Pondok.
Kanda,
Melalui surat ini kumeminta tolong mas segera menemui ayah. Jangan sampai terlambat. Semenit saja kakak telat menemuinya, saya sudah bersanding dengan lelaki lain.
Jika hal terakhir benar-benar terjadi padaku, aku merasa diriku gadis paling malang di dunia ini. lebih malang dari tokoh-tokoh lgendaris; Laela dan Juliet. Aku mendamba hidup bersamamu, tapi malah bersanding dengan kawanmu.
Tetapi kasihku,
jika mas tetap bersikeras menunda pernikahan sampai selesai kuliah, maaf, hatiku akan kuserahkan pada orang lain. Walaupun kehadirannya sama sekali tidak kuharapkan. Aku akan berusaha mencintainya. Bagaimana pun juga tugas seorang istri adalah mengabdikan diri pada suaminya. Aku tidak mau menyandang predikat perawan tua, Mas.
Salam rindu,
Lili
Tubuhnya sekonyong-konyong terasa berat. Dadanya sesak bagaikan Bilal saat ditindih batu di tengah padang pasir.
Ia cinta. Ia rindu. Ia punya harapan yang sama, hidup bersama menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Tetapi, bagaimana menjelaskanya, sampai saat ini, ia belum mendapatkan biaya pernikahan, uang untuk mahar, dan gelar yang menjadi syarat mutlak ayahnya.
Semua gaji habis untuk makan dan biaya kuliah. Malah kadang masih gali lobang. Jika nekad menamui ayahnya, sudah pasti jawabannya sama dengan jawaban manager terhadap pelamar pekerjaan yang tidak memenuhi syarat.
Perasaannya bagaikan Abu Bakar saat mendengar Muhammad mengatakan Tuhan telah menyempurnakan ajaran Islam, ”Hari kusempurnakan agama kalian.” Ummat Islam kala itu gembira, akhirnya sempuna jua ajaran Islam dan Tuhan mengakuinya.
Lain halnya dengan Abu Bakar. Ia orang yang peka. Baginya, Perkataan nabi bukan kabar gembira. Justru kabar buruk. Perkataan nabi tadi sama saja artinya beliau berpamitan pada ummat Islam. Benar saja, tidak lama menyampaikan kabar itu, nabi wafat.
Begitu juga dengannya. Seakan baris-baris kalimat itu lampu hijau baginya untuk segera melamar.
Tetapi, sebenarnya surat pamitan, dia akan segera menikah. Karena bagaimana pun Lili tahu Abduh tidak akan pernah mampu mempersunting dirinya. Tidak memenuhi syarat ayahnya. Itu saja masalahnya.
***
Tekanan psikologisnya sedikit demi sedikit mulai berkurang, sebelum akhirnya lenyap sama sekali, setelah meletakkan kening dan hidungnya di bawah telapak kaki Tuhan.
Jemarinya bergerak gemulai memutar bulir-bulir tasbih. Gerakannya tidak kalah indah dibandingkan tarian saat memetik dawai gitar.
Bibirnya berkomat-kamit lembut, selembut shalawat yang di-ijazah-kan ayahnya beberapa saat sebelum ia berangkat merantau. Ia terlihat semakin hidmat ketika sampai pada kalimat aghisni. Ia menghayati betul kalimat itu. Bibirnya diam, hatinya yang berbicara. Memohon sesuatu.
Dia teringat pesan ayahnya, ”Shalawat ini ayah dapatkan dari almagfurlah Kiai Sanusi, pengasuh Pondok Pesantren Babakan, secara khusus. Tidak semua santri mendapatkan ijazah ini. Dan, sekarang, ayah berikan kepadamu secara khusus pula.
Jangan lupa ketika sampai pada kalimat aghisni, mintalah apa yang jadi hajatmu, insyaallah mustajab. Dikabulkan.
Ingat! Ini senjata pamungkas Kiai Sanusi jangan gunakan sembarangan. Satu lagi pesan beliau, shalawat ini bisa kamu gunakan meminta hajat apapun, asalkan jangan kamu gunakan memelet wanita. ‘ingsung ora ridho dunya akherat,’ itu wanti-wanti beliau.”
Dan jangan lupa, sebelum membaca shalawat kamu tawassul dulu pada nabi, auliya, dan para shalaihin. Sabda nabi, ”Barang siapa bertawassul kepadaku, maka dia berhak mendapatkan syafaatku di hari akhir.” Abu Bakar Assiddiq pernah meriwayatkan sebuah hadits, ”Jika kamu sekalian mengalami berbagai masalah, maka mintalah (solusinya, pen.) pada ahl kubur,” ujar ayahnya menutup pesan.
Mereka diam. Sunyi. “Maksud meminta pada ahli kubur adalah bertawassul. Bukan meminta secara hakiki. Karena mereka tidak bisa mengabulkan dan menolak doa. Mereka sebatas perantara antara kamu, yang notabene-nya sebagai peminta dengan Tuhan sebagai tempat kamu meminta. Ingat, sekali lagi, yang mengabulkan dan menolak (semoga tidak) doa tetap Tuhan.” Kalimat terakhir diucapkan dengan penuh penekanan.
Di atas hamparan karpet surau, ia mendapatkan permintaannya dalam doa malam itu, ketenangan hati dan dapat melupakan perawan idamannya.Sebab, ia tidak mungkin memenuhi permintaan kekasihnya. Selain tidak ‘memenuhi persyaratan’ juga tidak mungkin dia bersaing dengan seniornya di Pesantren. Su’ul adzab, bahasa santrinya.
Kini dia hanya bisa menjaga harapan. Harapan untuk terus hidup dan meraih kegemilangan. Ia tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Cukup dirinya saja yang menjadi tumbal derita dan nestapa.
Ia teringat nasihat bijak psikolog sekaligus pendeta anglikan, ”Dasar kehidupan seseorang adalah harapan. Bila ada harapan, maka ada hidup dan tidak ada jalan lain. Bila tidak ada harapan untuk masa depan, maka tidak ada kekuatan untuk saat ini. Sekali lilin harapan mati, maka jalanan menjadi berbahaya.”
Esok harinya, Abduh merubah sketsa kehidupannya dua tahun mendatang. Tentu saja yang jadi sasaran utama adalah melamar dan menikahi Lili. Ia juga melakukan perubahan kecil yang dianggap kurang rasional.
Ia sudah siap memulai aktifitas barunya tanpa bayang-bayang gadis bermata bulat itu. Abduh menyibukkan dirinya dengan berbagai aktifitas baru. Dia tidak membiarkan dirinya terus dibelenggu penyesalan. Dia terus berkarya, sampai akhirnya dapat merampungkan kuliah.
Setelah resmi menjadi sarjana, kasibukannya bertambah: menjadi imam masjid di dekat kontrakannya, guru ngaji, dan sesekali menghadiri undangan ceramah. Ia juga menjadi guru agama di beberapa sekolahan. Akhirnya dia mengundurkan diri dari perusahan yang selama bertahun-bertahun mambiayai dia makan dan kuliah. Ia lebih memilih mendedikasikan diri pada Tuhan; menjadi guru ngaji, agama, imam shalat, tahlil, dan berbagai kegiatan keagamaan lainya.
Sementara itu, jauh diseberang sana, di sebuah desa terpencil, seorang ibu sedang kebingungan melihat anaknya menangis tiada henti. Berbagai cara sudah ia lakukan. Sedangkan sang ayah entah sudah kemana perginya, sudah lima bulan meninggalkan rumah pada suatu malam yang sunyi. Tanpa jejak. Tanpa pesan. Hanya satu yang ditinggalkan, luka…. Tripoli, akhir musim dingin, 09 Februari 2008Pukul 2.10 dini hari