Profil
DILAHIRKAN di Indramayu. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama di Madrasah Ibtidai’iyyah Asy-Syafi’iyyah dan Mts Negeri Krangkeng, di desa kelahirannya. Kemudian, hijrah ke Kediri. Tepatnya Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien, atau lebih terkenal dengan nama: Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur. Di Lirboyo ia berkenalan dengan dan belajar menulis pada Saeful Asyhad, mantan wartawan Surabaya Post. Saat ini, ia sedang ”topo broto” di International Islamic Call College, Tripoli, Libya. Itulah sepenggal riwayat hidup ”Joko Tingkir” abad ke-21.
Selain mendapatkan bimbingan dari Saeful Asyhad, ia juga aktif mengikuti berbagai pendidikan Jurnalistik. Diantaranya, ”Workshop Jurnalistik untuk Pengelola Majalah Sekolah” (kerjasama IPNU Jatim dan Kompas) pada tahun 2004 dan ”Diklat Jurnalsitik Bernalar” (kerjasama Misykat dengan IMSS) pada tahun 2007.
Tulis-menulis adalah hobinya: muliai menulis surat cinta, pelajaran, sampai menulis hutang. Hutang pada kedua orang tua. Hutang kasih-sayang mereka yang tulus, dan hutang motivasi saudara-saudaranya yang begitu membara. Juga hutan cinta sebening embun (emangnya Ebiet) perawan yang sedang menunggunya di seberang samudera (siapa tuh?) ….
Ia sempat mendedikasikan dirinya sebagai redaktur Misykat. Tulisan-tulisannya selain ”nongkrong” di majalah Ponpes Lirboyo, Misykat, juga ”mejeng” di Mading Hidayah (Ponpes Lirboyo), buletin Alharokah (JSP KBSJB Lirboyo), dan majalah El Waha (Ponpes Al Hikmah 2, Brebes Jateng).
Pria yang pernah berkaca mata minus ini aktif berorganisasi. Diantara amanat yang pernah diletakkan pada pudaknya adalah: (1) tiga kali terpilih sebagai sekretaris Jam’iyah Wilayah Almunawwarotul Ashriyah Jamiyyah Subbaniyyah Pusat Keluarga Besar Santri Jawa Barat (JWAA JSP KBSJB), tapi dua kali mengundurkan diri; (2) sekretaris satu Liga Wilayah KBSJB; dan (3) sekretaris umum Organsisasi Santri dan Alumni Ponpes Lirboyo se-Kecamatan Krangkeng, organisasi yang dia dirikan setahun sebelum berangkat ke Libya.
Sekarang, aktif mengikuti diskusi dan kajian keislaman yang diselenggarakan oleh PCI NU Libya dan berbagai diskusi lainnya. Adalah pemimpin redaksi majalah Al Ukhuwah dan buletin Sahara amanat yang harus ia kerjakan dengan penuh tanggung jawab semenjak menginjakkan kaki di ”Negeri Hijau,” selain tanggung jawabnya sebagai mahasiswa Ad Dakwah dan koordinator kajian ta’hili.














00b berkata
mang mun tamplate dadi blesak sich?apik sing lawas!!!